Tuesday, December 27, 2011

Bayi Ini Harus Digelitik Terus Agar Tak Berhenti Bernapas

img
Dalam banyak kasus, seseorang bisa meninggal karena terlalu banyak tertawa. Namun seorang bayi di Inggris justru harus tertawa agar paru-parunya tak berhenti bernapas, sehingga ibunya harus selalu menggelitik tubuhnya sepanjang hari.

Bayi laki-laki bernama Benn ini adalah anak dari Sanchia Norris (41 tahun) yang lahir November 2010 di Fen Drayton, Cambridgeshire. Jika bayi lain digelitik hanya untuk bersenang-senang, bagi Benn gelitikan Norris adalah penyelamat yang membuatnya bisa tetap bernapas.

Benn mengalami apnea, semacam kondisi otot yang lemah sehingga membuat paru-parunya bisa mendadak berhenti bernapas saat sedang tidur. Dalam semalam, Morris mengatakan anaknya bisa berhenti bernapas hingga 23 kali dan sebanyak itu pula nyawanya berada dalam bahaya.

Setiap kali Benn berhenti bernapas, sebuah alarm yang dipasang untuk mendeteksi pergerakan otot paru-paru akan berbunyi dan membangunkan Norris. Dalam waktu kurang dari 20 detik, Norris harus bangun dan mulai menggelitik telapak kaki atau perut Benn untuk merangsang ototnya.

"Saya harus segera merangsang dia dengan berbagai cara, misalnya menggelitik telapak kaki, dagu atau perutnya. Itu cukup untuk membuatnya bernapas lagi," ungkap Norris yang bekerja sebagai konsultan pajak seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (28/12/2011).

Apnea merupakan kondisi yang umum ditemukan pada bayi prematur seperti Benn. Jika normalnya bayi baru lahir setelah masa kehamilan 9 bulan, Benn sudah lahir di pekan ke-24 (bulan ke-6) dan ketika itu tidak seorangpun mengira ia akan bertahan hidup sampai sekarang.

Sesaat setelah dilahirkan, Benn yang ketika itu beratnya hanya sekitar 800 gram sempat masuk Neonatus Intensive Care Unit(NICU) atau ruang perawatan intensif untuk bayi baru lahir. Namun setelah 18 pekan, dokter mengizinkannya pulang dengan dibekali alarm pendeteksi otot paru-paru.

http://www.detikhealth.com/read/2011/12/28/094659/1801029/1300/bayi-ini-harus-digelitik-terus-agar-tak-berhenti-bernapas

No comments:

Post a Comment